Langsung ke konten utama

Lagu Andity dan kekacauan Twitter sore ini



Lagu Andity dan Kekacauan Twitter sore ini

Banyak kata yang tak bisa menggambarkan kita, bagaimana kita. sore ini adalah cerita. jika tangis bisa ditumpah, jika luka bisa dibagikan satu persatu, kita iklas menerimanya. tapi perasaan tak bisa begitu, kamu, kamu, kamu, kamu. . . perasaanmu berbeda.  
kisah cinta memang paling pelik, perasaan memang sensitif. soal hati memang berbeda dari biasanya, siapa coba main-main pasti dipermainkan.
kalau aku boleh pinta Tuhan, jangan aku lagi yang merasakannya. kalau aku boleh pinta ya Tuhan, jangan teman, sahabat dan orang-orang yang aku sayangi lagi yang merasakannya. :( Mungkin egois, tapi aku mohon jangan.
jika hidup begitu seimbang, maka seimbangkanlah aku, keluarga, teman-temanku, dan sahabat-sahabatku keseseorang yang baik. bukannya kita juga orang baik, pasti mudah Engkau kasih yang baik juga. aku percaya itu.

seseorang pernah bicara tentang kisah Adam dan Hawa yang saling jatuh cinta, dia bilang Hawa terbuat dari tulang rusuk Adam.
                  "begitu baiknya Tuhanku ini, ia ciptakan semuanya berpasangan," ceritanya padaku waktu itu.  
                  "lalu bagaimana dengan kisah Adam yang lain, yang pergi membiarkan tulang rusuknya menjadi tiada dan mencari tulang rusuk lain?", tanyaku.
                 
                   "apa kau percaya adanya Tuhan"
                   "tentu saja"
                   "kalau begitu tunggu, Allah tak akan memasukan tulang rusuk ketubuh yang salah", jawab seseorang yang kemudian pergi.

Dear Asty sahabatku,
semoga semua akan baik-baik saja. jangan sedih lagi, jangan buat air mata itu menetes karena alasan yang sama. Ketika kamu yang selalu menyayangi dan  merindukannya tak juga kembali dirindukan, kamu harus berbuat apa. Tak perlu tanya apa itu cinta, kamu jauh lebih tau daripada aku. 
Cintamu mungkin datangnya terlambat. Jangan coba perjuangkan yang tak pernah ingin diperjuangkan as. Keep your smile. i want see your smile again. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gigi Papah

Garis-garis di dahinya semakin hari semakin bertambah. Kapan aku memperhatikan itu?  Kulit wajahnya pun sedikit turun. Aku tak tau itu terjadi. Kulitnya menghitam semakin hari. Tampannya juga mulai luntur. Gagah fotonya kini tak nampak lagi. Hei.. aku ingat dulu. Saat kaki-kakiku kecil. Tubuh yang mungil. Si kecil yang rajin bertanya padamu. Aku sangat lucu bukan?  Kenapa aku baru sadar. Kau semakin tua sekarang. Hampir setengah abad beberapa tahun lagi. Sore ini ketika makan bersama, kita berbincang tentang banyak hal. Seperti biasa. Mungkin aku yang paling banyak bicara.  Makanannya habis. Kemudian kita bergurau tentang pertandingan bulutangkis di tv. Akhirnya dia menyadari, gigi nya patah. Ompong satu. Aku tertawa, memanggil ibu di luar yang berbincang dengan tetangga untuk masuk kepembicaraan kita. Giginya patah. Candaan baru keluarga. Di sela tawa kita, garis-garis di dahinya semakin terlihat. Ia menjadi tua. Tawaku berubah takut. Aku b...

Hujan di lantai delapan

Malam ini cuaca tak seberapa bagus, bau air dimana-mana. Hujan turun. Seperti biasa, waktu berputar 24 jam dalam sehari, berhitung tak pernah lelah. Menentukan cahaya dan gelap masuk sesuai jadwalnya.  Hujan hari ini sangat bahagia, ditemani kawan petir sesekali. Aku tak memiliki alasan, mungkin mereka tertawa melihat tingkah manusia yang semakin hari semakin kejam. Aku sempat lupa. Hujan juga berkawan angin. Kadang masuk kesela tulang di pinggiran jalan yang gelap. Merubah murung si tukang air panas yang tak laku, menjadi tawa penuh harap. Bias-bias lampu yang indah kemudian masuk melalui kaca. Kegelapan yang seharusnya menyelimuti cakrawara kini sirna karena cahaya. Makna apa yang kamu miliki kini? adakah yang bisa kau simpan? setidaknya dalam hati. Jangan percaya siapapun. Apalagi pada gelap yang hanya beri bias. Cukup hidup pada pedoman keyakinan, doa orang tua, dan simpanan masa depan.

Mari Bercerita

Kini semua tak lagi sama. Telah lama aku berpikir bahwa aku tak pernah bisa hidup tanpa cahaya. Tapi ketika satu persatu cahaya itu padam aku tak bisa apa-apa.  Tak lagi ada nafas yang membuatnya bergerak seirama, seperti sepasang tangan yang mendampingi kaki untuk selalu jalan teratur. Kemudian berhenti lalu tak bergerak sama sekali.  Pada akhirnya aku hanya akan membaca setiap langkah yang dibuat. Tanpa berusaha mendampingi kaki-kaki itu dengan senyum. Pada akhirnya aku tak pernah berani bicara, meski mulut penuh dengan kata-kata.