Langsung ke konten utama

wanita penyeduh kopi



sebanyak kata yang pernah diucapkan olehnya, sebanyak kata yang kau dengar dari bibirnya
mata, wajah, senyum dan rambutnya yang selalu tersapu angin hingga menutupi pelipisnya sampai gerah
cuma itu yang bisa aku ingat. cuma itu yang aku tau

apa kamu ingat kata-kata terakhirmu yang kau ucap diujung teleponku malam itu. begitu hambar, begitu lucu, begitu menggemaskan.
jika kau sudi akan aku ulangi. tapi tak apa.
aku ini wanita yang ada dipikiranmu. jadi selama kau anggap tidak mengapa aku pasti akan sama. mungkin bagi Tuhanku, dicukupkan waktuku bersamamu. kalau kata Tuhanmu bagaimana? pernahkah kau bertanya?
jangan sebut ini berakhir sayang, bilang pada mereka aku baru saja mengenalmu.
aku rindu kata-kata penuh pemikiran darimu. aku rindu cinta-cinta yang terselip dalam buku-buku sejarah milikmu.
aku rindu dekap mata yang selalu membuatku betah bersama. aku rindu genggam tangan yang menjagaku dari pelarianmu untuk Tuhanku. aku rindu.

apa ada yang ingin kamu tau dari aku? sedikit saja.
aku ingin dengar kabarmu. aku ingin kau mengulangi cerita-cerita itu. cerita-cerita yang membuatku merasa tak memiliki otak sepertimu.
aku ingin kau paksa untuk dengar tentang zionis-zionis yang sangat kau gilai, atau tentang tokoh idolamu dari jerman itu. atau tentang keberadaan atlantis yang menghilang. aku ingin dengar semua itu.
jika saja melupakanmu semudah mencintaimu.
aku hampir gila.

i'm not wanna those crazy girls

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gigi Papah

Garis-garis di dahinya semakin hari semakin bertambah. Kapan aku memperhatikan itu?  Kulit wajahnya pun sedikit turun. Aku tak tau itu terjadi. Kulitnya menghitam semakin hari. Tampannya juga mulai luntur. Gagah fotonya kini tak nampak lagi. Hei.. aku ingat dulu. Saat kaki-kakiku kecil. Tubuh yang mungil. Si kecil yang rajin bertanya padamu. Aku sangat lucu bukan?  Kenapa aku baru sadar. Kau semakin tua sekarang. Hampir setengah abad beberapa tahun lagi. Sore ini ketika makan bersama, kita berbincang tentang banyak hal. Seperti biasa. Mungkin aku yang paling banyak bicara.  Makanannya habis. Kemudian kita bergurau tentang pertandingan bulutangkis di tv. Akhirnya dia menyadari, gigi nya patah. Ompong satu. Aku tertawa, memanggil ibu di luar yang berbincang dengan tetangga untuk masuk kepembicaraan kita. Giginya patah. Candaan baru keluarga. Di sela tawa kita, garis-garis di dahinya semakin terlihat. Ia menjadi tua. Tawaku berubah takut. Aku b...

Hujan di lantai delapan

Malam ini cuaca tak seberapa bagus, bau air dimana-mana. Hujan turun. Seperti biasa, waktu berputar 24 jam dalam sehari, berhitung tak pernah lelah. Menentukan cahaya dan gelap masuk sesuai jadwalnya.  Hujan hari ini sangat bahagia, ditemani kawan petir sesekali. Aku tak memiliki alasan, mungkin mereka tertawa melihat tingkah manusia yang semakin hari semakin kejam. Aku sempat lupa. Hujan juga berkawan angin. Kadang masuk kesela tulang di pinggiran jalan yang gelap. Merubah murung si tukang air panas yang tak laku, menjadi tawa penuh harap. Bias-bias lampu yang indah kemudian masuk melalui kaca. Kegelapan yang seharusnya menyelimuti cakrawara kini sirna karena cahaya. Makna apa yang kamu miliki kini? adakah yang bisa kau simpan? setidaknya dalam hati. Jangan percaya siapapun. Apalagi pada gelap yang hanya beri bias. Cukup hidup pada pedoman keyakinan, doa orang tua, dan simpanan masa depan.

Mari Bercerita

Kini semua tak lagi sama. Telah lama aku berpikir bahwa aku tak pernah bisa hidup tanpa cahaya. Tapi ketika satu persatu cahaya itu padam aku tak bisa apa-apa.  Tak lagi ada nafas yang membuatnya bergerak seirama, seperti sepasang tangan yang mendampingi kaki untuk selalu jalan teratur. Kemudian berhenti lalu tak bergerak sama sekali.  Pada akhirnya aku hanya akan membaca setiap langkah yang dibuat. Tanpa berusaha mendampingi kaki-kaki itu dengan senyum. Pada akhirnya aku tak pernah berani bicara, meski mulut penuh dengan kata-kata.